Penantian

Maafkan aku yang selama ini tidak pernah sadar..

Akan hadirnya dirimu dalam hidupku..

Kau selalu ada..

Ketika semua orang meragukanku..

Kau membuat aku percaya..

Bahwa tidak ada yang tidak mungkin, apabil aku berserah..

Bukan dengan keyakinanku akan rencanaku..

Tapi percaya akan janjiMu dan rencanaMu terhadap hidupku..

 

Maafkan aku..

Yang baru sadar akan besar kasihMu..

Dan selalu lupa, apabila setiap keinginanku itu kau buat nyata..

Kini aku sadar Tuhan…

Kau hidup dalam hari-hariku..

Tapi aku terkadang.. masih bergantung pada diriku sendiri..

Dan tidak menyerahkan sepenuhnya kepadaMu..

Maafkan aku..

 

Penantian ini..

Aku percaya Tuhan…

JanjiMu nyata terhadap hidupku..

Apa yang harus aku kuatirkan dalam hidupku?

Apa yang harus aku gelisahkan terhadap masa depanku?

Satu hal yang aku punya yaitu iman kepadamu..

 

Kuatkan aku dalam masa penantianku..

Perbaharui diriku untuk menjadi manusia baru yang kau harapkan ada dalam hidupku..

Bentuk aku Tuhan sesuai keinginanMu..

Pakai aku Tuhan sesuai rencanaMu..

 

Aku percaya..

Masa penantian ini..

Masa dimana Engkau menunjukkan kemuliaanMu..

Kepada kami yang percaya kepadaMu..

 

Seperti bundaku yang selalu setia kepadaMu,

bantu aku untuk melakukan hal yang sama..

Terjadilah padaku menurut kehendakMu..

Apakah dia?

Apakah dia orangnya?

Orang yang selama ini aku kagumi tapi tak pernah ku ungkapkan..

Orang yang selama ini aku doakan tapi tak bisa ku katakan..

Orang yang selama ini aku sayangi tapi tak terlihat di depan matanya..

Apakah dia orangnya?

Yang dulu pernah memberikan sebuah perhatian dan kini memudar..

Yang dulu pernah ada dan siap mendengarkan dan kini menghilang..

Yang dulu pernah ada di hati.. dan sekarang dia masih ada..

Apakah dia orangnya?

————————————————————-

Aku tak mengerti apa arti cinta..

Sampai sekarang aku pun tak pernah mengertinya..

Orang yang pernah singgah sekarang menjauh..

Kalau memang dia orangnya, dia akan tetap ada..

 

Satu hal yang aku lupa..

Kadang antara dia atau bukan dia..

Bukan lagi inginku, bukan lagi mauku, tapi kadang..

Semesta berkata lain..

 

Bantu aku untuk menerima..

Menerima sebuah kenyataan..

Kalau memang bukan dia, relakanlah..

 

Hanya kekuatanMu yang bisa memampukanku..

Berserah

Ketika berserah, bukan berarti menyerah..

Ketika ku berserah, bukan berarti aku diam..

Ketika ku berserah, melupakan segala egoku, perencanaanku, keinginanku..

Tetapi melihat dan hatiku tertuju kepadaMu..

 

Ketika berserah, bukan berarti lemah..

Ketika ku berserah, ku percaya kepada Dia atas segala rencanaku..

Dan percaya itu adalah jalan terbaik dari Dia..

 

Berserah adalah sebuah penyerahan hati..

Dimana yang berperan dan menaungi bukan lagi ‘aku’ melainkan ‘Dia’

Percaya akan sesuatu yang lebih dan terbaik akan terjadi..

 

Maafkan atas kekuranganku, kelemahanku dan kekuatiranku..

Ku serahkan semuanya padaMu ya Tuhan..

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemana

Kemana aku harus mencari, hati yang gersang seakan terlihat kokoh bagaikan pohon yang berdiri tegak tetapi sebentar lagi akan roboh diterpa badai karena akar yang tidak kuat.

Kemana aku harus mengadu, seakan semuanya harus sesuai dengan apa yang seharusnya menurut kata orang banyak. Ingin keluar, ingin teriak, ingin menangis kencang… dan bilang ini adalah hidupku.

Kemana aku harus ceritakan, setiap pikiran yang menggrogoti alam bawah sadarku dan apabila ini sebuah toples akan aku pindahkan sebagian isinya ke toples yang kosong.

“Tuhanku, Allahku.. Apakah kau ada disana?”, tanyaku.┬áDia menjawab, “Aku selalu disini. Kemana kamu selama ini? ” Dia balik bertanya kepada diriku. “Mohon maaf Tuhan, aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri, diriku sendiri. Ini aku Tuhan, anakmu yang lemah dan tak berdaya.”

Dia tersenyum dan memelukku dan bilang, “Hapus air matamu. Aku disini dan tak perlu cari kemana.”

 

Logika vs Rasa

Logika itu muncul ketika rasa yang dalam ini menguak sebuah cerita. Ternyata kau sudah ada yang punya, cerita itu terungkap dari orang dekatmu. Walau dari mulutmu, cerita itu seakan dua keping mata uang, yang berbeda gambarnya. Tidak ada yang pas, dan tidak tahu siapa yang dipercaya.

Rasa itu memang tak bisa hilang begitu saja, hal yang perlu diakui. Tetapi logika seakan memberontak untuk keluar dan muncul ke permukaan. Melihat kembali masa itu, kau selalu berpikir aku adalah orang yang menunggu ‘sang pangeran’ datang. Walaupun pernyataan itu dapat aku benarkan, tetapi tidak kau lihat bahwa aku juga sedang mengusahakan untuk menemukan ‘sang pangeran’.

Mendengarkan semua saranmu dan melakukannya (walaupun masih terlihat salah dan ada yang kurang). Mencoba untuk memulai kata maaf walaupun bukan aku yang salah (kaulah yang mengajarkannya). Berusaha untuk memperhatikan respon dalam berkomunikasi dalam pemilihan kata (yang sekarang aku praktekkan kepada setiap orang yang aku ajak bicara).

Diantara logika dan rasa itu, ku sadari sangatlah sulit untuk menjadi seperti orang yang kau inginkan. Seakan semuanya harus sempurna, bagus dan tak bercacat. Tanpa kau sadari, aku bukanlah orang yang sempurna. Logika semakin menguatkanku untuk mencari orang yang mau menerima kesempurnaan serta ketidaksempurnaannya.

Rasa memang mengatakan kau lah orangnya yang memang aku cari selama ini. Tetapi logika mempertanyakan kesungguhanmu dan kejujuranmu untuk semua teka-teki yang ada dalam benakku. Hanya kau dan Tuhan yang tahu.

Apabila boleh berharap, Tuhan tolong tunjukkan apakah logika dan rasa ini harus terus berperang? Atau siapa pemenangnya?

Logika atau rasa.

 

Relakan

Tak perlu berpura-pura yang bukan dirimu

Apabila memang tak bisa
Tak perlu memaksakan
Apabila memang tak mungkin
Tak perlu menunggu
Apabila memang bukan ini jalannya
Biarkan..
Lepaskan..
Relakan
Dan serahkan..

Memang tak semuanya berakhir indah

Dan kadang berurai tetes air mata
Tapi ingatlah kau sudah berani mencoba
Dan keluar dari dirimu

Kalau memang belum waktunya
Dan bukan dia orangnya
Biarkan hatimu lapang
Dan lepas seperti burung di udara
Bapa pun tahu keinginan anaknya,
sebelum dia mengucap kata

Permainan Kata

Seribu kata tak berucap..

Tak mau untuk mengira dan menilai

Kata yang menjadi angan, ilusi dan persepsi..

mon-p38

Apabila kata itu lebih mudah keluar dan terdengar..

Apa yang terlihat dan ingin dilihat?

Akankah harus percaya pada sebuah kata yang ada di bagian terdalam?

Atau mempertahankan kata yang diselumuti oleh logika?

Semuanya seakan terlihat sulit..

Atau ingin dipersulit…

Itu semuanya..

Hanya sebuah permainan kata.