Berserah

Ketika berserah, bukan berarti menyerah..

Ketika ku berserah, bukan berarti aku diam..

Ketika ku berserah, melupakan segala egoku, perencanaanku, keinginanku..

Tetapi melihat dan hatiku tertuju kepadaMu..

 

Ketika berserah, bukan berarti lemah..

Ketika ku berserah, ku percaya kepada Dia atas segala rencanaku..

Dan percaya itu adalah jalan terbaik dari Dia..

 

Berserah adalah sebuah penyerahan hati..

Dimana yang berperan dan menaungi bukan lagi ‘aku’ melainkan ‘Dia’

Percaya akan sesuatu yang lebih dan terbaik akan terjadi..

 

Maafkan atas kekuranganku, kelemahanku dan kekuatiranku..

Ku serahkan semuanya padaMu ya Tuhan..

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemana

Kemana aku harus mencari, hati yang gersang seakan terlihat kokoh bagaikan pohon yang berdiri tegak tetapi sebentar lagi akan roboh diterpa badai karena akar yang tidak kuat.

Kemana aku harus mengadu, seakan semuanya harus sesuai dengan apa yang seharusnya menurut kata orang banyak. Ingin keluar, ingin teriak, ingin menangis kencang… dan bilang ini adalah hidupku.

Kemana aku harus ceritakan, setiap pikiran yang menggrogoti alam bawah sadarku dan apabila ini sebuah toples akan aku pindahkan sebagian isinya ke toples yang kosong.

“Tuhanku, Allahku.. Apakah kau ada disana?”, tanyaku. Dia menjawab, “Aku selalu disini. Kemana kamu selama ini? ” Dia balik bertanya kepada diriku. “Mohon maaf Tuhan, aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri, diriku sendiri. Ini aku Tuhan, anakmu yang lemah dan tak berdaya.”

Dia tersenyum dan memelukku dan bilang, “Hapus air matamu. Aku disini dan tak perlu cari kemana.”

 

Logika vs Rasa

Logika itu muncul ketika rasa yang dalam ini menguak sebuah cerita. Ternyata kau sudah ada yang punya, cerita itu terungkap dari orang dekatmu. Walau dari mulutmu, cerita itu seakan dua keping mata uang, yang berbeda gambarnya. Tidak ada yang pas, dan tidak tahu siapa yang dipercaya.

Rasa itu memang tak bisa hilang begitu saja, hal yang perlu diakui. Tetapi logika seakan memberontak untuk keluar dan muncul ke permukaan. Melihat kembali masa itu, kau selalu berpikir aku adalah orang yang menunggu ‘sang pangeran’ datang. Walaupun pernyataan itu dapat aku benarkan, tetapi tidak kau lihat bahwa aku juga sedang mengusahakan untuk menemukan ‘sang pangeran’.

Mendengarkan semua saranmu dan melakukannya (walaupun masih terlihat salah dan ada yang kurang). Mencoba untuk memulai kata maaf walaupun bukan aku yang salah (kaulah yang mengajarkannya). Berusaha untuk memperhatikan respon dalam berkomunikasi dalam pemilihan kata (yang sekarang aku praktekkan kepada setiap orang yang aku ajak bicara).

Diantara logika dan rasa itu, ku sadari sangatlah sulit untuk menjadi seperti orang yang kau inginkan. Seakan semuanya harus sempurna, bagus dan tak bercacat. Tanpa kau sadari, aku bukanlah orang yang sempurna. Logika semakin menguatkanku untuk mencari orang yang mau menerima kesempurnaan serta ketidaksempurnaannya.

Rasa memang mengatakan kau lah orangnya yang memang aku cari selama ini. Tetapi logika mempertanyakan kesungguhanmu dan kejujuranmu untuk semua teka-teki yang ada dalam benakku. Hanya kau dan Tuhan yang tahu.

Apabila boleh berharap, Tuhan tolong tunjukkan apakah logika dan rasa ini harus terus berperang? Atau siapa pemenangnya?

Logika atau rasa.

 

Relakan

Tak perlu berpura-pura yang bukan dirimu

Apabila memang tak bisa
Tak perlu memaksakan
Apabila memang tak mungkin
Tak perlu menunggu
Apabila memang bukan ini jalannya
Biarkan..
Lepaskan..
Relakan
Dan serahkan..

Memang tak semuanya berakhir indah

Dan kadang berurai tetes air mata
Tapi ingatlah kau sudah berani mencoba
Dan keluar dari dirimu

Kalau memang belum waktunya
Dan bukan dia orangnya
Biarkan hatimu lapang
Dan lepas seperti burung di udara
Bapa pun tahu keinginan anaknya,
sebelum dia mengucap kata

Permainan Kata

Seribu kata tak berucap..

Tak mau untuk mengira dan menilai

Kata yang menjadi angan, ilusi dan persepsi..

mon-p38

Apabila kata itu lebih mudah keluar dan terdengar..

Apa yang terlihat dan ingin dilihat?

Akankah harus percaya pada sebuah kata yang ada di bagian terdalam?

Atau mempertahankan kata yang diselumuti oleh logika?

Semuanya seakan terlihat sulit..

Atau ingin dipersulit…

Itu semuanya..

Hanya sebuah permainan kata.

In my eyes, St. Ignatius was…

At a young age, he was ambitious. He dreamed to be a warrior. His ideals life were ride horse with steel vest and spear in tournament, hunted with completed by duel, enjoyed the music and did hidden affairs with women, etc. Also, he was tough guy. He did surgery without anesthetic for his proud.

 Image

Broken Legs as a turning point

There was just book of the lives of the saints. And he started to read them and imagined saint’s life.

I thought he was still the same guy, with a strong character and has a big desire. The different is he changed his attentions, not about “himself”, but “God itself”.

 

What I am interested in..

#1. Warning

When his aunty, Maria Velasco warned him, “Inigo, you never learn to be a wise man before somebody broke your legs.”

I believe God wants something good in us, perfectly like Him. He called each of us to come to HIM but the way (lesson and time) of HIS called are differ with one another. This message made me reflect about my turning point of life when HE called me.

#2. A life of prayer, penance and fasting

……The most thing he would like to do, after he cured was went to Jerusalem, with a penance and fasting. ……”

To be honest, it is difficult to me to have discipline time for praying and fasting. When I read this message, it reminds me for just do it. It is not only for my proud that I can do it, but for God’s glory and makes myself closer with HIM.

#3. He loved to learn and share it to others

“He learned two years in Barcelona. After that, he learned more about philosophy for one and a half years in Alkala. Also, he continued to study at university in Paris.” 

Keep learning. That is what I get from this message. And what I learn is nothing if I do not share it to others.

 

What I want to explore more

How is the way to do it in every single day?

Do examen ..?

Write a journal …? 

I know that.

I do not want it just stay in my mind;

 or stuck in my mouth but make it happen in my daily life.

 

When?

Now…?

I am trying my best, dude.